Asrama Bumi Ganesha (ABG), bertempat di Jl. Cisitu Lama no 35. Asrama ini didirikan tahun 1981 dan diresmikan oleh Presiden Soeharto. Bangunannya merupakan bangunan Inpres. Pada awalnya Asrama ini dikelola oleh Koperasi Keluarga Besar ITB. Tapi karena pengelolaan yang kurang baik, akhirnya pada 1987 para penghuni ABG demo dan meminta supaya ABg dikelola secara mandiri.
ABG bukan hanya sebatas tempat tinggal, tapi juga merupakan sebuah organisasi. Ada jenjang kaderisasi di dalamnya.
Tahun pertama di ABG, masih berstatus sebagai Calon Penghuni (Capeng). Belum mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan penghuni yang lain. Di tahap ini, para capeng diberikan materi-materi soft skill, disuruh melakukan sosialisasi dengan para penghuni, dan membuat sebuah acara eksternal sebagai bentuk perwujudan dari semua softskill yang telah dipelajari, dan magang di biro-biro dalam kepengurusan. Dengan pertimbangan para penghuni dan pengkadernya, MPA memutuskan apakah capeng tersebut layak atau tidak diterima sebagai penghuni ABG.
Tahun kedua adalah tahun sebagai kepala biro. Melanjutkan kerja dari angkatan sebelumnya. Ada banyak biro, tergantung jumlah angkatannya. Ada biro toko yang mengelola toko, biro privat, pemeliharaan, Sosmas, dan lain-lain. Tujuan umumnya adalah menjaga keberlangsungan ABG ini. Tahun kedua juga sebagai tahun pengkader. Bertugas mengonsep dan menjalankan proses kaderisasi kepada para Capeng.
Tahun ketiga menjadi BP (Badan Pengurus) setingkat Presiden, Menteri, dan Staff Ahli, dan sebagai MPA (Majelis Permusyawaratan Anggota). MPA maerupakan perwakilan dari suara penghuni. Kayak MPR nya RI lah.
Tahun keempat dan seterusnya menjadi penghuni biasa. Menjadi tempat untuk dimintai pendapat, dan tetap mempunyai kewajiban yang sama dengan penghuni lainnya.
Secara keseluruhan, ABG adalah tempat yang sangat menyenangkan. Tidak ada yang ga saling kenal satu sama lain antar sesama penghuni. Udah kayak sebuah keluarga jadinya. Walaupun tak lepas dari konflik, tapi dalam sebuah keluarga tak akan selamanya tenang kan?
Tapi akhir-akhir ini, ABG udah kayak Indonesia saja. Didera krisis Ekonomi. Pemasukan dari wartel kian menurun karena maraknya pemakaian Ponsel. Pengeluaran seperti air, listrik, semakin membengkak. Beberapa karyawan telah memasuki usia pensiun, sementara uang pesangon belum terkumpul.
Usia bangunan semakin tua, di lantai 3 dan 4, hanya berjalan saja, sudah terasa goyangannya. Mahasiswa yang masuk ITB sudah semakin kaya, sehingga animo untuk masuk ke ABG semakin berkurang. Akbitanya uang sewa asrama semakin membengkak. Sekarang malahan sudah mencapai kisaran 150 ribu rupiah. Saingan dengan asrama sebelah yang hanya 100 ribu per bulan, tanpa ada tuntutan kaderisasi dan segala macamnya.
Akhirnya BP dan penghuni dituntut kreatif dalam mencari alternatif pemasukan lain. Tidak hanya berharap dari Toko, wartel, dan sewa asrama saja. Bukan hanya pemasukan Asrama saja yang harus ditingkatkan, tapi juga pemasukan penghuni juga harus ditingkatkan.
Walau bagaimanapun juga, Gw akan tetap di ABG sampai lulus, (atau sampai digusur).
Karena BG Asramaku, BG Rumahku, BG Keluargaku

No comments:
Post a Comment